Heart Chat Bubble

Sabtu, 08 Agustus 2015

Perjalanan menuju ketulusan hati


Tuhan, sudah tidak adakah ketulusan didunia ini?
aku selalu dibuat kecewa setiap kali aku mencari dan ingin merasakan ketulusan.

Dalam hal bekerja, aku selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang bekerja dengan tidak tulus Tuhan.
Mereka menjadikan angka-angka sebagai tujuan dari mereka bekerja dengan harapan itu akan menjadikan mereka bahagia, sehingga banyak dari mereka yang bekerja dengan tidak jujur, mereka mengambil terlalu banyak hak orang lain didalamnya, untuk kepentingannya.

Dalam hal ibadah, aku selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang beribadah dengan tiada tulus Tuhan.
Mereka beribadah dan menjadi arogan dengan kebaikan dan ketaatan ibadahnya, mereka menyepelekan orang-orang yang tidak melakukan rutinitas keibadahan yang seperti mereka lakukan, bahkan mereka menyakiti sesama mereka yang tidak meyakini apa yang diyakininya, mereka menjelekkan satu sama lain dan mereka merasa telah berbuat hal yang benar dan menganggap itu adalah bentuk ketulusan mereka beribadah padamu.

Dalam hal menuntut ilmu, aku juga selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang menuntut ilmu dengan tiada tulus Tuhan,
Mereka belajar dengan susah payah, masuk ditempat-tempat dimana ilmu itu lahir dan ditemukan, lalu mereka menangkapnya untuk kepentingan mereka sendiri, untuk kedudukan mereka, untuk kesenangan mereka dan menjadikan mereka berbangga dengan apa yang diraihnya, menjadikan mereka berada dikelas-kelas para penuntut ilmu dan menganggap orang-orang yang tidak berhasil mencapainya, memiliki kedudukan yang tidak lebih bahagia dan tidak lebih  baik dari mereka.

Dalam hal cinta, aku juga selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang mencintai tiada tulus Tuhan,
Mereka mengejar rupa dan angka, mereka mencintai karna rupa dan angka, karna rupa dan angka itu tidak terbatas dan tiada akhir, mereka akan berpindah dari rupa yang satu ke rupa yang lain, angka yang satu ke angka yang lain, mereka menikmati dan menganggap itu cinta Tuhan, mereka berkhianat dan menjadi saling menyakiti karna rupa dan angka itu.

Aku kecewa Tuhan dan aku merasa sangat sedih ketika menulis ini,  apa iya benar, memang sudah tidak ada lagi orang tulus didunia ini?
Aku coba mencari dan mengamati gerak-gerik dan perilaku orang orang disekitarku, namun jawabannyanya  masih sama, aku bahkan semakin kecewa karna ternyata aku tidak bisa melihat itu, aku tidak menemukan ketulusan itu, apa aku tidak layak mendapatkan ketulusan itu?

Atau aku sudah menjadi arogan dan egois karna mengharapkan orang-orang itu bisa menjadi tulus sedangkan aku belum begitu tulus pada-MU, pada orang-orang disekitarku, pada dunia ini?

Tuhan, aku sadar bahwa ternyata memang aku sudah terlalu egois dan sombong mencari dan mengharapkan ketulusan itu yang nantinya akan hadir dan menghampiri aku, aku lupa bahwa aku harus terlebih dahulu menemukan ketulusan itu didalam diriku dan menghadirkannya pada orang-orang disekitarku. 
Menghadirkannya pada saat aku diamanahi tanggung jawab ketika menduduki suatu jabatan, menghadirkannya di saat aku beribadah sebagai wujud kecintaanku pada-MU, menghadirkannya pada saat aku menuntut ilmu dan membagikan apa yang telah aku dapatkan, menghadirkannya pada saat aku menilai dan memilih orang yang kelak akan berjalan bersamaku sebagai pendamping hidup.

Tuhan , jika tiba saatnya nanti engkau mencabut nyawaku, dan menginginkan aku pergi dari dunia ini, semoga aku pergi dengan keyakinan bahwa ketulusan itu ada dan telah lahir, aku tidak perlu mencari dan mengharapankannya ada di diri orang-orang disekitarku,

Tapi aku harus menemukannya didalam diriku sendiri, dalam kerelaanku menerima bahwa aku selama ini tidak cukup tulus sehingga aku tidak bisa menemukan ketulusan itu.


Milla Hanifah
Jakarta, 09-08-2015  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar