Cinderella;mitos
kecantikan sepanjang masa.
Alkisah disebuah negeri antah
berantah, hiduplah seorang gadis yang cantik jelita namun hidupnya menderita
akibat ulah ibu tiri dan saudara2 tirinya. Dia menjadi pelayan bagi ibu tiri
dan kedua saudara tirinya. Dia menjadi pelayan bagi ibu tiri dan saudara
tirinya. Suatu ketika pengeran mengumumkan akan mengadakan pesta dansa 3 hari 3
malam untuk mencari isteri. Para gadis didesa sibuk mempersiapkan diri dengan mempercantik
diri mereka, membeli gaun yang indah untuk pergi kepesta dansa itu. Tak
terkecuali kedua saudara tiri Cinderella. Harapan
para gadis2 itu hanya satu, menjadi yang tercantik dapat memikat hati sang
pangeran dan selanjutnya dapat menjadi isteri pangeran, sehingga dapat hidup
sampai akhir hayat dengan bergelimang harta.
Cuplikan resensi film diatas
diambil dari film yang berjudul Cinderella story. Selain melalui film
Cinderella, kisah Cinderella dituangkan dalam berbagai bentuk mulai dari
kartun, buku bacaan anak hingga mainan unutk anak-anak diseluruh dunia. Tak
heran bila kisah ini terus melekat dihati para anak-anak, khususnya anak
perempuan. Tetapi tanpa kita sadari, penciptaan dari dongeng2 kepahlawanan
seperti ini mempunyai misi tersembunyi dibalik penciptaannya.
Hal menarik yang coba saya
analisis disini adalah:
para
gadis bersusah payah mempercantik diri mereka hanya untuk pergi kepesta istana.
Mengapa?karena mereka ingin memikat hati pangeran. Lalu apa? Agar selanjutnya
dapat menjadi isteri pangeran, dan dapat hidup sampai akhir hayat bergelimang
kemewahan dan kekayaan.
Dari kutipan kisah diatas”saya
dapat menyimpulkan dampak psikologis alur diatas terhadap anak kecil ataupun
para perempuan muda yang menontonnya. Mereka akan berasumsi bahwa menjadi
cantik dan memikat hati pangeran kaya raya akan menjadikan hidupnya bahagia
sampai akhir hayat. Padahal hidup ini tidak hanya sebatas harta, kuasa, dan
pengakuan saja. Ada banyak hal yang lebih dari itu yang bisa dijadikan pedoman
dan tujuan kebahagiaan kita. Saya berasumsi bahwa dongeng2 semacam ini sengaja
diciptakan sebagai penegasan bahwa perempuan adalah
-Makhluk inferior yang tidak bisa hidup tanpa
mengandalkan penampilan fisik mereka
-Makhluk lemah, tidak dapt hidup
mandiri dan selalu berada dibawah kekuasaan laki2
-Makhluk yang tidak mempunyai
pilihan dan selalu menjadi objek.
Kisah ini menjadikan para perempuan
beranggapan bahwa seseorang perempuan dikatakan bernilai jika dilihat dari segi
fisik seperti kecantikan, keanggunan, kesucian, menguasai pekerjaan domestik
dan sebagainya. Hal tersebut menjadi syarat mutlak bagi seorang perempuan untuk
meningkatkan status sosialnya dimasyarakat. Perempuan yang memiliki
syarat-syarat ini diharapkan dapat memikat pria-pria dan kemudian keinginan
mereka tercapai.
Dan kisah ini jika ditelusuri
lebih jauh telah menanamkan sifat materialistik pada diri perempuan secara
tidak langsung.
Ironisnya dongeng-dongeng
seperti ini diwariskan dari generasi ke generasi, tidak hanya cerita dan
tokohnya saja, tetapi juga nilai- nilqi yang terkandung didalamnya. Namun tanpa
disadari nilai moral tersebut menjadi strategi untuk mempermudah penyebaran
misi mitos kecantikan yang bertujuan untuk kepentingan pihak corporate /
pihak-pihak tertentu. Mitos kecantikan merupakan upaya doktrinasi agar
perempuan memberikan standard penilaian yang sama terhadap apa itu “cantik”.
Hal ini digambarkan sempurna
dalam dongeng Cinderella. Para perempuan diseluruh negeri berdandan secantik
mungkin, memakai gaun yang terbaik, memakai perhiasan yg mahal. Para ibu
sibuk mempercantik putri mereka. Semua ingin berdansa dengan pangeran. Semua
ingin mendapatkan perhatian pangeran. Semua ingin menjadi istri sang pangeran.
Cinderella pun ditampilkan
sebagai sosok yang ideal. Cantik, bertubuh langsing, memakai gaun yang indah,
memakai sepatu kaca, dan membawa kereta kencana yang sangat mewah. Citra ideal
tersbut merupakan fantasi laki-laki. Citra ideal tersbut menjadi panduan bagi
prempuan dan impian perempuan yang sesungguhnya adalah sebuah mimpi yang tidak
pernah tercapai. Akan tetapi mengapa fantasi in terus diwariskan dari generasi
ke generasi?
Tentu saja ini berguna untuk
mengendalikan perempuan. Pada akhirnya perempuan lebih menyibukkan diri untuk
mempercantik dirinya yang sudah cantik. Namun demikian, laki-lakilah yang
menjadi juri atas kontes kecantikan ini. Laki-laki tidak akan pernah
terpuaskan, sedangkan perempuan akan terus berusaha untuk menjadi sempurna
menurut fantasi laki-laki. Secara psikologis, kecenderungan perempuan terlalu
sibuk mempercantik diri Ini akan semakin meneggelamkan perempuan dalam
inferioritasnya dan menjauhkan perempuan atas dirinya sendiri.
Konflik moral akibat mitos
kecantikan ini juga menimbulkan stress dibawah sadar perempuan. Hasilnya
adalah, perempuan melakukan kekerasan dan penindasan pada kaumnya sendiri. Kita
dapat melihat kembali penggambaran ini dlam dongeng Cinderella, dimana ibu tiri
dan kedua kakak tiri Cinderella tidak menyukai Cinderella karena Cinderella
sangat cantik,lemah lembut dan baik hati. Mereka memperlakukan Cinderella spt
pembantu dan memberikan Cinderella pakaian yang kumal.
Tampilan dari sikap ibu dan
kedua saudara tiri Cinderella adalah perempuan merupakan makhluk yang
mengerikan, mempunyai sifat dengki dan iri hati, emosional, terlalu
berperasaan, dan mementingkan hal yang remeh spt bersaing untuk menjadi yang
tercantik, sibuk mempercantik dirinya, dan terlalu mengagung-agungkan pesona
fisik dibandingkan intelektualitasnya.
Tak heran jika dikisah nyata
baik itu pergaulan sekolah maupun tingkat universitas,kita sering mendengar
istilah “gencet”bagi kaka tingkat atau kakak kelas yang memiliki komunitas
tertentu dan merasa tidak suka dengan adik kelas atau anak baru yang cantik dan
tampil mempesona dengan sedikit berdandan. Tidakkah disadari bahwa dampak kisah
ini begitu nyata hadir ditengah2 kita saat ini.
Dan bagian yang menarik untuk
dikritisi pada kisah ini adalah saat pengeran mencari Cinderella ke seluruh
negeri. Suatu ketika pangeran menemukan sebuah rumah dimana terdapat tiga orang
perempuan. Ketiga perempuan adalah ibu tiri, dan kedua saaudara tiri
Cinderella. Pangeran ingin mengtahui apakah dari ketiga perempuan itu salah
satunya adalah Cinderella, kemudian pangeran memasangkan satu pasang sepatu
kepada ibu tiri dan saudara tiri Cinderella. Akan tetapi kaki ketiganya tidak
ada yang pas dengan sepatu kaca itu. Kemudian pangeran yang tampak putus asa
bertanya kepada ibu tiri, apakah ada seorang perempuan lagi dirumah ini. Ibu
tiri menjawab bahwa tidak ada perempuan lagi dirumahnya selain dirinya dan
kedua anaknya. Kemudian terdengar bunyi sesuatu terjatuh. Pangeran terkejut dan
mencari arah suara itu. Pangeran menemukan seorang perempuan kumal penuh
abu didapur. Pangeran mencoba Cinderella untuk mencoba sepatu kaca tersebut.
Ternyata sepatu itu pas sekali dengan kaki Cinderella. Seketika itu juga
Cinderella berubah wujud menjadi Cinderella yang cantik. Kemudian pangeran
meyakini bahwa dialah Cinderella yang dicarinya. Pangeran yang telah menemukan
belahan hatinya, tidak lagi membuang-buang waktu. Dia meminta Cinderella untuk
ikut dengannya keistana. Disana pangeran dan Cinderella menikah dan hidup
bahagia.
Jika kita analogikan maksud
cuplikan dongeng tsb, bahwa dpt disimpulkan pangeran tidak mngenal Cinderella
versi kumal dan kotor. Setelah sepatu kaca pas dgn kaki Cinderella, pangeran
belum yakin bahwa itu adalah Cinderella. Namun ketika Cinderella berubah wujud
menjadi sosok yang cantik, barulah pangeran meyakini bahwa dialah Cinderella.
Dongeng ini berakhir bahagia karna pangeran telah menemukan Cinderella versi
cantik. Bagaimana keadaanya jika pangeran tidk bertemu dgn Cinderella versi
cantik, atau bagaimana jika pangeran bertemu Cinderella versi kumal tnpa spatu
kaca?
Jawabannya mungkin kisah ini
tidak akan berakhir bahagia. Mungkin pangeran akan frustasi karna tidak
menemukan Cinderella versi cantik sedangkan Cinderella terus terhanyut dalam
mimpi tentang pangeran yang tidak akan pernah mendatanginya. Dibagian ini, saya
dapat melihat ada makna terselubung yang menjadi tertanam secara
psikologis pada diri setiap perempuan yaitu bahwa kecantikan memegang peranan
besar terhdap kebahagiaan sesorang.
Setelah kisah ini selesai
diceritakan, biasanya para orang tua menjelaskan moral dongeng ini kepada
anaknya bahwa seseorang yang berbuat baik akan mendapatkan keberuntungan,
sebaliknya bahwa seseorang yg berbuat jahat akan menuai kesengsaraan. Namun, apakah apakah anak-anak perempuan tadi menghayati moral
tersebut. saya berpendapat tidak, yang melekat didalam hati
anak-anak pastilah sebuah impian untuk mempunyai wajah cantik sehingga bisa
mendapatkan seorang pangeran dan hidup di istana. Pada akhirnya mitos kecantikan lebih kuat melekat dibandingkan nilai moral
tadi. Para orang tua membacakan dongeng ini kepada anak-anaknya, dan apa
para orangtua tsb menganggap psitif dongeng ini karna diangggap mengandung
nilai moral kebaikan. Akan tetapi para orang tua tidak menyadari dampak nya
pada aanak-anak mereka khusunya anak2 perempuan mereka. Dongeng ini hanya
menghasilkan mimpi2 bagi anak perempuan dan bukan imajinasi. Mimpi hanya akan
menidurkan anak2 dalam khayalan yang mendalam, lawn dari mimpi yaitu imajinasi.
Imajinasi ini akanmenghasilkan sesuatu yang kreatif. Tetapi sayangnya hal yang
terakhir ini tidak terdapat dalam dongeng Cinderella.
**pengendalian seksualitas
perempuan juga menjadi agenda dari kisah cinderella. Dalam dongeng Cinderella
kita melihat adanya hal tsb walaupun tdk tertuang secara eksplisit ttpi scra
implisit. Hal yg dpt saya gambarkan dlm dongeng ini berkaitan dengan
realitas social mengenai perempuan yang menikah dua kali ( ibu tiri Cinderella)
dan konsep perempuan sebgai makhluk inferio yg berfungsi sebagai alat
reproduksi. Melalui dongen ini ada sebuah konsep yang tertanam manjadi pengetahuan
umum bahwa ibu tiri adalah perempuan jahat. Ibu tiri selalu jahat kepada anak
tirinya. Dari sini sebenarnya terkandung dua dimensi tersembunyi dari realitas
sosial.yaitu;
1. Konsep mngenai kebencian
trhdp ibu tiri. Tokoh ibu tiri yang jahat dalm dongeng ini sengaja diciptakan
untuk menyebarkan pandangan umum tentang ibu tiri dgn hrpan anak2 prmpuan yg
mmbca crta ini dpt memperoleh gmbrn mngnai ibu tiri yg jaht kemudian ank2
melarang ayahnya untuk menikah lagi.
2. Adanya pandangan kebencian
mengenai perempuan bahwa dpt berubah mnjdi sesuatu yg mengerikan spt menindas,
melakukan kekerasan, iri hati dan emosional.
Selainkonsep
tentang ibu tiri, didalm dongeng ini juga terdapat penggambaran konsep
perempuan sebagai mesin reproduksi. Dimana disini dikisahkan bahwa raja dan
permaisuri menginginkan pangeran cpt menikah karena ingin seceptnya mempunyai
cucu, sementara pangern belum berkeinginan untuk menikah karena belum memilki
perempuan yg sempurna.
Kisah Cinderella ini begitu
terkenal hingga keseantero dunia, media massa memegang peranan penting dalam
hal ini. Dan mendukung pengukuhan stereotype dan peneguhan mitos
kecantikan dan kisah sempurna ala dongeng Cinderella. Tentunya hal ini akan
berpengaruh pada tahap perkembangan kepribadian perempuan.khususnya anak2
perempuan,karna apa?k arna dongeng ini biasa diperkenalkan oleh orang tua
mereka diusia yang masih balita ataupun baru masuk sekolah. Sehingga tidak
mengherankan jika dilihat dari perspektif psikilogis para perempuan diseluruh
dunia lebih memperhatikan perkembangan dirinya pada spek penampilan diri, agar
lebih diperhatikan oleh remaja laki-laki.
Tidakkah disadari oleh kita
semua, bahwa kisah Cinderella ini memberikan harapan hampa kepada para
perempuan diseluruh dunia, akan kesempurnaan hidup yang sebenarnya dapat diraih
tanpa harus dengan kesempurnaan fisik.
Seperti kutipan iklan eskulin
pada tahun”saya lupa sist(hha)” dimana disitu ada satu cuplikan cwe cupu dan
bosan dgn hidupnya,kemudian tiba2 dtg ibu peri.kasih hrpan, sruh dia minta satu
hal, dan dya mnyatakan sperti ini disalh satu dialognya”berikut dialognya
Kamu mau apa,sebut satu
permintaan?”ibu peri”
Saya mau jadi……………….diam bbrpa
saat,Cinderella.’anak perempuan.
Cring berubah lah dia dan
hidupnya ceria.
Tidak miriskah kita menerima
kenyataan ini, tidakkah kita sadari kisah Cinderella ini secara psikologis
telah mengubah sedikit banyaknya,kurang lebihnya pandangan dan perspektif kita
terhadap ukuran relativitas cantik menjadi sesuatu yang mutlak. Wanita
dijadikan objek seksualitas reproduksi, dan ibu tiri digambarkan begitu kejam
sampai dampaknya banyak anak2 kecil yang ketika ayahnya bercerai dan menikah
lagi, 97% tdak setuju, dan beranggapan ibu tirinya jahat. Padahal anak itu
belum mengenal dan belum pernah tau ibu tirinya seperti apa.
Sepertinya para orang tua harus
lebih selektif lagi menceritakan dongeng kepada anaknya. Karna tujuan moral
positif dari sebuah dongeng yang ingin kita sampiikn kepada anak belum tentu
dapat diterima dengan sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar