Heart Chat Bubble

Minggu, 09 Agustus 2015

A Travel to the Sincerity (English version)


God, is there any sincerity in this world?

I always disappointed every time I look for and want to feel in sincerity.
 
In my working atmosphere, I'm always let down by some people working without sincerity, making money as the goal of their work in the hope it will make them happy, so many of them working dishonestly. Taking rights of others to their interests.

And also I always let down by some people around me who worship God without sincerity, they become arrogant with their ritual ceremonies and obediences, to underestimate others who do not perform it routinely as they did, and even hurt their neighbors who don't even believe what they believe for, vilifying others and they feel that they have done things right and assume it is a form of the truly sincere worshippers of God. 

In the study achievement and motivation, I always let down by people who studied without sincerity. They learning hard and going to farthest way and places where science was born and discovered, then they made knowledge for their own purpose, job position, temporary pleasures and make them proud of what they have achieved, making them to be an educated caste and consider inferiority to those who did not achieve it.

In love relationship, I also always let down by some colleagues who like someone without sincerity of love. They looking for material and bodily pleasures, they like someone for their material appearances and bodily pleasures, so infinite and endless worldly pleasures that they will move from one thing to another, one illusion paper money to other delusional quantities, and they’ve enjoy it and consider it is as love , therefore they are disappointed, defected, and hurt each other. 

Lord, I was disappointed and I feel very sad when writing this, is it right that there is no more sincere people in this world? As I’ve tried to look for and observe the current attitude and behavior of the people around me, and the answer is always the same, and I am even more disappointed because I can’t find sincerity as what I hope for? Or it is that I've become so arrogant and selfish for what I am expecting the sincerity from your creatures while I have not been so sincere to You and to people around me, your creatures? 

And now I realized that sincerity firstly will be and could be find within my self, to be sincerity and present it to the people around me. Presenting it when I entrusted the responsibility in the occupying a position, when I worship You, bring it on when I studying and sharing what I’ve got , bring it on when I select and choose who’s that person that will be run with me as a companion in my life. 

Lord, if someday I have to leave this world, I wish that I leave it with the hope on the conviction that sincerity is an attribute within my self and I don't need to look after or expecting from others. Help me to be a sincere person. 

Jakarta
Aug, 9th 2015
            

Milla Hanifah



Sabtu, 08 Agustus 2015

Perjalanan menuju ketulusan hati


Tuhan, sudah tidak adakah ketulusan didunia ini?
aku selalu dibuat kecewa setiap kali aku mencari dan ingin merasakan ketulusan.

Dalam hal bekerja, aku selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang bekerja dengan tidak tulus Tuhan.
Mereka menjadikan angka-angka sebagai tujuan dari mereka bekerja dengan harapan itu akan menjadikan mereka bahagia, sehingga banyak dari mereka yang bekerja dengan tidak jujur, mereka mengambil terlalu banyak hak orang lain didalamnya, untuk kepentingannya.

Dalam hal ibadah, aku selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang beribadah dengan tiada tulus Tuhan.
Mereka beribadah dan menjadi arogan dengan kebaikan dan ketaatan ibadahnya, mereka menyepelekan orang-orang yang tidak melakukan rutinitas keibadahan yang seperti mereka lakukan, bahkan mereka menyakiti sesama mereka yang tidak meyakini apa yang diyakininya, mereka menjelekkan satu sama lain dan mereka merasa telah berbuat hal yang benar dan menganggap itu adalah bentuk ketulusan mereka beribadah padamu.

Dalam hal menuntut ilmu, aku juga selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang menuntut ilmu dengan tiada tulus Tuhan,
Mereka belajar dengan susah payah, masuk ditempat-tempat dimana ilmu itu lahir dan ditemukan, lalu mereka menangkapnya untuk kepentingan mereka sendiri, untuk kedudukan mereka, untuk kesenangan mereka dan menjadikan mereka berbangga dengan apa yang diraihnya, menjadikan mereka berada dikelas-kelas para penuntut ilmu dan menganggap orang-orang yang tidak berhasil mencapainya, memiliki kedudukan yang tidak lebih bahagia dan tidak lebih  baik dari mereka.

Dalam hal cinta, aku juga selalu dikecewakan oleh orang-orang disekitarku yang mencintai tiada tulus Tuhan,
Mereka mengejar rupa dan angka, mereka mencintai karna rupa dan angka, karna rupa dan angka itu tidak terbatas dan tiada akhir, mereka akan berpindah dari rupa yang satu ke rupa yang lain, angka yang satu ke angka yang lain, mereka menikmati dan menganggap itu cinta Tuhan, mereka berkhianat dan menjadi saling menyakiti karna rupa dan angka itu.

Aku kecewa Tuhan dan aku merasa sangat sedih ketika menulis ini,  apa iya benar, memang sudah tidak ada lagi orang tulus didunia ini?
Aku coba mencari dan mengamati gerak-gerik dan perilaku orang orang disekitarku, namun jawabannyanya  masih sama, aku bahkan semakin kecewa karna ternyata aku tidak bisa melihat itu, aku tidak menemukan ketulusan itu, apa aku tidak layak mendapatkan ketulusan itu?

Atau aku sudah menjadi arogan dan egois karna mengharapkan orang-orang itu bisa menjadi tulus sedangkan aku belum begitu tulus pada-MU, pada orang-orang disekitarku, pada dunia ini?

Tuhan, aku sadar bahwa ternyata memang aku sudah terlalu egois dan sombong mencari dan mengharapkan ketulusan itu yang nantinya akan hadir dan menghampiri aku, aku lupa bahwa aku harus terlebih dahulu menemukan ketulusan itu didalam diriku dan menghadirkannya pada orang-orang disekitarku. 
Menghadirkannya pada saat aku diamanahi tanggung jawab ketika menduduki suatu jabatan, menghadirkannya di saat aku beribadah sebagai wujud kecintaanku pada-MU, menghadirkannya pada saat aku menuntut ilmu dan membagikan apa yang telah aku dapatkan, menghadirkannya pada saat aku menilai dan memilih orang yang kelak akan berjalan bersamaku sebagai pendamping hidup.

Tuhan , jika tiba saatnya nanti engkau mencabut nyawaku, dan menginginkan aku pergi dari dunia ini, semoga aku pergi dengan keyakinan bahwa ketulusan itu ada dan telah lahir, aku tidak perlu mencari dan mengharapankannya ada di diri orang-orang disekitarku,

Tapi aku harus menemukannya didalam diriku sendiri, dalam kerelaanku menerima bahwa aku selama ini tidak cukup tulus sehingga aku tidak bisa menemukan ketulusan itu.


Milla Hanifah
Jakarta, 09-08-2015