Heart Chat Bubble

Minggu, 11 Januari 2015

aku, agama dan ilmu pengetahuan

Hari ini aku benar-benar memeluk agama islam,dengan meyakini sepenuh hati bahwa agama ini dan Alquran sebagai kendaraanku untuk berinteraksi dengan Tuhan, manusia dan alam. Aku terlahir sebagai perempuan dan dibesarkan dalam keluarga muslim, sebagai anak aku hanya menerima doktrin dan ajaran ini sebagai bentuk kepatuhan yang tidak berpengetahuan. Beranjak dewasa dan Semakin jauh pemikiran ini menangkap realitas, semakin banyak konsepsi ketuhanan yang menawarkan kebajikan, membuatku sering berbenturan dan bahkan pernah terjajah oleh paradigma keliru. 

Kekeliruanku tentang konsepsi yang benar mengenai alam semesta, membiarkanku pada sebuah gagasan bahwa manusia memang sudah digariskan nasibnya untuk kebingungan dan salah, sama seperti cerita dan konsepsi kedurhakaan yang dilakukan adam karena rayuan seorang wanita untuk memakan buah khaldun. 
 
Dan yah, aku ini wanita, dan konsepsi wanita adalah sipemuas pencari keindahan dan posisi idealnya adalah diranah domestik, membuatku menjauh dan berfikir keliru tentang konsepsi wanita yang ditawarkan kebanyakan agama dan bahkan agamaku saat ini. walaupun aku manusia namun tetap realitas gender, diskriminasi dan inferioritas telah menawan pemikiran dan tubuh ini pada suatu kesetujuan diranah pemikiran yang keliru.

Dari konsepsi inilah aku menahkodai akalku untuk berfikir dan menarik kesimpulan. Karna menurut Alquran berfikir merupakan bagian dari ibadah, maka aku tidak mau mempercayai ajaran doktrinal agama yang diberikn orangtuaku ini bukan dari hasil berpikir yang benar. Hingga Aku semakin terombang ambing dalam sangkaan dan persangkaanku terhadap Tuhan, sama seperti descartes yang baru menganggap sesuatu itu sebagai realitas ketika itu sudah jelas baginya. 
 
tak bisa aku pungkiri bahwa memang kecenderungan alamiah manusia adalah cepat menerima gagasan/kepercayaan yang sudah diterima oleh generasi sebelumnya, tanpa memikirkannya lebih jauh. Sehingga ketika aku mulai memilih berpikir independen dan tidak menerima apapun tnpa menilai dengan seksama, hal itu menjadikan aku dianggap tak sama rumit dan idealis. Namun kerumitan ini coba ak jawab dengan firman Tuhan melalui surat pertamanya Al.alaq.

Disitu Tuhan menyerukan untuk iqra atau baca, dan baca disni aku yakini sebagai seruannya untuk kita manusia berfikir. Membaca dan menangkap berbagai macam realitas yang bertebaran didunia berkat upaya kolektif manusia selama berabad-abad, yang dihimpun dikembangkan serta mengalami proses dan sistematisasi, yang melahirkan sebuah informasi yang kita kenal sebagai "ilmu pengetahuan".

Ilmu pengetahuan inilah yang membedakan kita manusia dengan binatang, walaupun binatang pada umumnya memiliki kemampuan melihat dan mengenal dirinya sendiri dan dunia sekitarnya,atau bahkan mereka mampu menggunakan pengetahuannya itu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, namun tetap saja,dimensi keinginan dan kecenderungan dalam eksistensi binatang ada batasnya, begitu pula dimensi pengetahuannya.
 
Berdasar pada sudut pandang ini aku meyakini bahwa manusia memiliki wewenang yang luas dan tinggi terhadap keinginan, kecenderungan, pandangan serta informasi dibidang pengetahuan. Berbekal ilmu ini lah qt manusia dapat mengetahui peristiwa yang terjadi sebelum kita lahir, sejarah manusia, sejarah bumi, langit, gunung sungai dan organisme hidup. Yang menjadi pemikiran manusia bukan saja sebuah masa depan yang jauh, namun juga hal yang tak terhingga dan abadi.

Perbandingan diatas telah menjadi pijakanku meyimpulkan secara mendasar perbedaan manusia dengan binatang yaitu pengetahuan dan agama tentunya. Pengetahuan dan agama merupakan dasar dari ras manusia dan ras manusia ini bergantung pada pengetahuan dan agama. Karna jika dinilai dari sudut pandang keinginan dan hasrat, kita tak lebih daripada binatang. Walaupun ketika harus disejajarkan dengan binatang aku tetap menginginkan sebagai binatang yang berpandangan kedepan, suka ketertiban sosial, romantis, intuitif dan penikmat keindahan serta keadilan. yah walaupun pernyataanku tadi konyol,tapi terlihat jelas bahwa aku tidak ingin disamakan dengan binatang, karna aku berfikir, mencintai ketertiban, keindahanan dan pengetahuan. Berbeda halnya dengan binatang, namun harus aku iyakan bahwa masi banyak manusia yang belum sadar akan tanggung jawab eksistensi dan realitasnya hadir didunia ini. Dibumi yang konon katanya bulat ini. sehingga banyak manusia yang hidup layaknya binatang.

Sifat-sifat kebinatangan atau hewaniah manusia ini semakin jelas dengan hadirnya paham kapitalisme yang aku namai sebagai ketamakan global, sebagai bukti bahwa perang dunia, bom nuklir, penjajahan, kecurangan, pembunuhan, pembantaian, eksploitasi alam dan manusia sebagai perwujudan bahwa banyak manusia telah kalah oleh hasrat dan keinginan hewaniahnya, untuk menpertahankan eksistensinya, untuk meninggikan derajatnya dan untuk memperkaya dirinya tnpa memikirkan sisi-sisi manusiawinya.

Mengingat fakta sejarah kondisi manusia terdahulu bahkan hingga saat ini membuatku ingin berkontribusi melalui tulisan sederhana ini, sebuah gagasan mendasar untuk manusia yang tak lebih sebagai organisme material belaka menjadi substansi spiritual. Aku memiliki mimpi dan berkeyakinan bahwa manusia masa depan adalah manusia budaya bukan manusia ekonomi, manusia agama, akidah dan ideologi, bukan sekedar manusia yang hanya mengejar kenikmatan jasmani.
 
Karna yang menentukan tujuan akhir kita sebagai manusia adalah evolusi budaya dan realitas kita sebagai manusia, bukan sekedar evolusi alat-alat produksi. Sisi manusiawi kita adalah independen dan bukan sekedar cermin kehidupan hewani kita. Dan ilmu pengetahuan serta agama merupakan dua bagian pokok dari sisi manusiawi manusia.
 
Ilmu pengetahuanlah yang memberikan kepada manusia cahaya dan kekuatan, lalu agama memberi manusia cinta, harapan dan kehangatan.
Ilmu pengetahuanlah yang membantu menciptakan peralatan dan mempercepat laju kemajuan, lalu agama menetapkan maksud manusia sekaligus mengarahkan upaya dari maksud tersebut.
Ilmu pengetahuan juga menjadikan dunia ini dunia manusia, kemudian agama menjadikan kehidupan sebagai kehidupan manusia.
Ilmu pengetahuan itu indah begitu pula agama, ilmu pengetahuan memperindah akal dan pikiran, sedangkan agama memperindah jiwa dan perasaan.


Ilmu pengetahuan telah melindungi manusia terhadap penyakit, banjir, gempa bumi dan badai, lalu agamalah yang melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik. Dengan ilmu pengetahuan inilah aku terdorong untuk menulis dengan bahagia dan dengan semangat agama yang penuh kebajikan, aku belajar menebar kebaikan. Hal ini yang menjadikan agama buatku menarik perhatian, ketika coba aku selami dan pelajari bersama ilmu pengetahuan. 
 
Menurutku, agama memang harus dipahami dengan memerhatikan ilmu pengetahuan, sehingga tidak terjadi pembauran agama dan mitos. Karna Agama tanpa ilmu pengetahuan, berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, yang menjadikan agama sebagai alat orang- orang pandai munafik. Sedangkan ilmu pengetahuan tanpa agama, adalah seperti sebilah pedang tajam ditangan pemabuk yang kejam.

Aku merasa bahwa keyakinan dan semangat religius bukan saja menetapkanku sejumlah tugas, salah satunya tugas menuangkan pemikiran baik dan buah tutur kata baik pada setiap perkataan dan tindakanku, namun juga mengubah pandanganku tentang dunia. aku pun berharap semoga idealisasiku tidak akan sampai melewati batas fantasi.
 

Tulisan ini hanya satu dari sekian banyak hal kecil yang aku pertanyakan dan fikirkan, namun melalui tulisan inilah rasa percayaku akan kasih sayang Tuhan hadir, sehingga dengan semangat aku bisa katakan bahwa tulisan ini adalah tentang kembalinya rasa percaya diriku kepada dunia, dan hilangnya rasa tidak percaya aku kepada perilaku dunia. 


Hanifah, 
Saturday jan 10th, 2015

Selasa, 12 Agustus 2014

why be a vegetarian?



Siang hari ini didalam kamar berukuran 4x6 m persegi, aku kembali membuka kotak persegi empat berwarna hitamku, dan kembali menyapa huruf-huruf kecil yang merepresentasikan rasa dan asaku tentang sesuatu. Hari ini genap sudah 10 hari aku menadi lacto vegetarian. Keputusanku adalah berdasarkan pertimbangan yang matang namun bukan melulu sebab dari kesehatan, melainkan secara spritual dan dorongan hati aku ingin menjadi itu. Adalah pertama karna istilah “you’re what you eat” bagiku ini bukan hanya sekedar ungkapan, namun kalimat ini mengandung makna filosofis yang mendogmatisku, yang bisa mengantarkanku pada jiwa bersahaja berkepanjangan atau rasa ingin merasakan ini itu demi memenuhi egoku.

Menurutku,  hidup ini adalah tentang melewati rasa suka dan duka. Dan dalam hidup ini makanan menjadi faktor penting untuk kita bisa belajar melampaui rasa itu. Makanan bukan hanya tentang mengisi perut dan menghilangkan rasa lapar. Makanan kini sudah beralih fungsi menjadi rasa gengsi . Makanan kini ditampilkan dengan pencitraan sedemikian rupa yang akan merepresentasikan orang yang memakannya. Makanan dihadirkan dalam berbagai bentuk rasa dan penampilan, disajikan ditempat-tempat yang dipenuhi daya tarik rasa dan selera sipemakannya.

Terkadang kita makan dan memilih tempat tersebut bukan karna kita suka makanannya, tapi karna kita suka tempat makannya. Ada juga yang memilih makanan bukan karna dia lapar dan ingin makan tapi karna dia suka makanannya. Dan ada juga yang makan bukan karna dia boleh memakan makanannya tapi karna dia suka dan ingin makan makanan itu. Jadi perkara makanan ini adalah bukan hanya sekedar makan, tetapi bagaimana kita melewati fase rasa suka itu. 

Dalam islam Tuhan memerintahkan kita untuk berpuasa di bulan khusus selama 1 bulan bukan perkara kita menahan makan disiang hari dan menggantinya dengan malam hari, yah memang puasa bisa dibilang perubahan jadwal waktu makan, namun ketika mulai memahaminya lebih mendalam, puasa adalah satu kegiatan dimana kita menahan dan melawan rasa ingin dan rasa suka itu. Jadi perkara makan bagiku sesuatu yang kompleks, dan jika dibicarakan dan aku coba berikan penjelasan dari berbagai perspektif mulai dari agama, kesehatan, psikologis, ekonomi, akan menghasilkan beragam pemikiran dan pengertian yang panjang.

Namun aku coba mengerucutkan pemikiranku tentang makanan ini pada satu istilah diatas tadi. You are what you eat. Silahkan anda kategorikan sendiri diri anda pemakan apa, suka makan apa dan seperti apa kira-kira anda sekarang?

Di islam sendiri Tuhan tidak melarang umatnya memakan daging, kecuali babi dan anjing. Namun ada cara-cara khusus yang kita lakukan ketika hendak memotongnya, dengan diperlakukan baik dan didoakan. Bukan serta merta dipotong dalam keadaan paksa dan dalam keadaan stress binatangnya karna ketakutan. Namun fakta yang banyak terjadi, permintaan masyarakat yang begitu tinggi pada daging menjadikan si ayam, sapi, kambing bahkan kelinci dikembangbiakan, dipotong terus menerus dengan cara massal dan tidak selalu diperlakukan baik ketika hendak dipotong. Tak heran hal-hal ini yang bisa dijadikan salah satu alasan banyak makanan yang dihasilkan dari binatang ini melahirkan beragam penyakit. Aku masih makan daging dan aku masih ingin makan daging. Namun ketika aku tahu bagaimana proses potongnya dan di seperti apakan. Ribet memang. Tapi ini prinsip.

Aku meyakini bahwa merekapun mahkluk Tuhan, dan harus diperlakukan dengan baik. Bukan serta merta hanya demi memenuhi rasa suka itu aku mengenyampingkan rasa peduliku tentang hal ini. Berbeda halnya dengan tumbuh-tumbuhan yang memang ketika dipetik dan diambil harus dalam keadaan diambil. Tidak didiamkan membusuk dan terus menerus dipohon. Jadi inilah satu dari sekian alasan aku memutuskan menjadi lacto vegetarian. Tentang bagaimana aku belajar melampaui rasa suka itu. Dan kini  semua rasa melebur menjadi sama. Antara suka dan duka terasa sama. Antara enak dan tidak enak yah sama.  Toh ini semua hanya bersoalan dengan rasa. Yang datang dan pergi tak terasa. Dan seperti yang kita tahu yang di lalukan hewan hanyalah Makan dan Sex. Dan aku rasa wajar ketika orang-orang yang sering makan katakanlah enak-enak dan yang dia suka. Terkadang hanya memikirkan bagaimana isi kantong, yang berujung pada isi perut dan Sex.
Aku tidak ingin makananku merepresentasikan itu, dan aku ingin menggali potensi diriku untuk bukan kalah dengan rasa suka.. tapi bisa  melampaui rasa itu.
Terus belajar menjadi makhluk Tuhan yang peduli dengan sesama mahkluk ciptaannya, sesuai dengan apa yang diperintahkannya.



















Sabtu, 20 April 2013

my perspective : feminisme dan Al-Qur'an *antara intelektualisme dan ekstremisme


Ketika gue memulai mereview dan membaca beberapa tulisan diblog ini. Gue merasa bahwa apa yang gue tulis disitu penuh dengan kemarahan, kebencian, prasangka buruk yang berujung pada sebuah kritikan tentang pengharapan yang tak kunjung mendapatkan penghargaan.
Dunia ini seakan banyak mempertontonkan ketidakadilan, diskriminasi, intoleransi, dan ketidakpedulian. Hingga pada akhirnya gue mengerti. Bahwa tidak hanya mereka dan dia yang mengalami krisis bahagia dan cinta kasih, tetapi gue pribadi telah meyelami rasa itu…
Semakin gue memikirkan ini semakin gue merasa penting untuk memecahkan masalah dalam diri, tentang diskriminasi tentang wujud caci dan apresiasi terhdap diri. Sebagai seorang wanita gue semakin mengkaji, apa hakikat gue hadir di muka bumi..
Dan semakin gue kaji semakin gue mengerti bahwa tubuh ini hanyalah sebuah properti, yang satu ketika akan dibawa pergi oleh sang kekasih yang kelak menjadi pengganti, pengganti papaku nanti..
Apa yang bisa gue perbuat dengan tubuh mungil ini yang penuh dikriminasi?
Ketika gue menguji dan memompa diri untuk menjadi terpuji, yang gue dapatkan hanya sebuah jeruji…
Jangan kesana, jangan kemari.. jangan sekolah tinggi-tinggi,, karna engkau sang putri, putri yang tak pantas berlari…
Kau hendaklah menanti, tak pantas diuji..
Kau baiknya menangis tak harus rasionalist..
Kau haruslah bermanis tak baik menjadi egois..
Semua itu dipertuntut kan kepada gue sebagai seorang wanita,yang sekan hidup dalam privatisasi.
Ok  ditulisan ini gue coba ganti sudut pandang budaya ini menjadi lebih normatif, gue beralih mencari sang spiritualist untuk menyirami rasa haus akan pengatahuan yang naturalis,,
Akhirnya pengertian akan diri yang gue dapatkan adalah bahwa:
Adam di murkai Tuhan dan diusir kebumi itu karna bujukan hawa yang memintanya makn buah khaldun, dan bahwa wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki, hendaklah berdosa baginya menampakkan setengah anggota tubuhnya kepada laki-laki, sudah pasti wanita itu lebih banyak masuk neraka ketimbang lelaki, dia berdosa ketika menolak pada suami untuk disetubuhi, diapun berdosa ketika pergi tanpa seijin suami, dia berdosa ketika ingin memimpin, dia tak pantas untuk dijadikan inspirasi, kalopun dia dijadikan sebagai sesosok yang menginspirasi, itu semua tidak terlepas dari kemolekan tubuhnya yang mengantisipasi…
dan kenapa?kenpa…. jika satu negara atau pemerintahan ingin melakukan islamisasi, tindakan pertama yang dilakukan adalah memaksa perempuan masuk kedalam rumah dan menutupi diri?
Apakah itu sebuah sudut pandang islam yang coba di interpretasi kebnyakan orang secara dangkal tanpa berdiskusi…?
Semakin gue pelajari, itu terasa semakin tidak masuk akal untuk gue pribadi. Karna bukankah Tuhan Maha Pengasih, lalu kenapa begitu diskriminasi?

Semua aturan-aturan ini menampakkan gue pada kesadaran bahwa ada sebuah masalah diskrimasi dan ketidakadilan perempuan dalam masyarakat islam melalui interpretasi teks Al-Qur’an.
Masalahnya, Kenapa?kenapa bisa terjadi?
Akhirnya gue mencoba memplajari ini, dan mengimani bahwa Qur’an itu memuat sebuah cerita-cerita  dan mitologi yang dibungkus dalam harfiah dan pralambang. Penafsirannya sangat tergantung dari cara pandang kita, bagaimana kita memahaminya secara harfiah atau sebagai pralambang. Dua cara pandang yang berbeda itu akan menghasilkan penafsiran yang berbeda pula. Banyak orang yang menyatakan dan menganggap telah menafsirkannya secara harfiah, tapi bukankah bahasa arab adalah bahasa yang bertumpu pada akar kata?...
Untuk mengtahui satu kata arab kita hrus bertumpu pada akar katanya. Dan masalahnya adalah akar kata itu mempunyai puluhan bahkan ratusan arti sesuai konteksnya,,
So, bukankah itu berarti satu kata,selain bergantung pada akar, bergantung pula pada konteksnya?.. maka sungguh tidak mungkin mengartikan kata-kata arab tapa mempertimbangkan atau mengetahui konteksnya tersebut. 
Berbekal hal ini gue semakin ingin tahu, kenapa wanita haram untuk keluar rumah, kenapa wanita harus menutupi tubuhnya dan laki-laki tidak, apakah karna konteks pada masa itu?
Namun bukankah Al quran sendri merupakan pedoman  hidup untuk masa lalu , kini dan masa depan?
Lalu seperti apa gue harus mereinterpretasi setiap ayat-ayat itu?
Ayat-ayat yang seakan mendiskreditkan gue sebagai wanita?
Apakah yang gue lakukan ini adalah upaya rasionalisasi al-Qur’an yang sia-sia?

Entahlah, tapi gue berangkat memboncengi pemikiran ini sebagai seorang yang  beriman “ a true believer”. Gue perrcaya Al qur’an merupakan sabda Tuhan yang menjadi norma ideal islam dan diberikan sebagi pedoman bagi umat manusia masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Namun gue hadir dengan sebuah prasangka bahwa argumen keagamaan yang coba direalitaskan ini adalah hasil interpretasi dan aturan-aturan kegamaan yang dibuat kaum lelaki.
dan masalahnya adalah gue yakin bahwa Tuhan itu bukanlah laki-laki, Tuhan itu adil, Maha penyayang dan tidak mendiskriminasikan antara perempuan dan laki-laki. gue percaya perempuan itu sejajar dengan laki-laki, namun sangat dan masih banyak perempuan islam yang menganggap dirinya tidak sejajar dengan laki-laki, karna selama ini perempuan islam selalu disosialisasikan demikian. Sepanjang masa, selam beratus-ratus tahun, kami “perempuan” diajarkan untuk merasa serba kurang dibanding laki-laki. Dan kami “perempuan” diciptakn dari rusuk adam, dan rusuk itu adalah rusuk yang bengkok. Dan kami “perempuan” diceritakan sebagai penyebab adam terlempar keluar dari surga. Dan kami “perempuan” diciptakan untuk melayani laki-laki. Dan itu yang menjadikan kami “perempuan” makhluk inferior dan sulit untuk tak merasa berarti.

Namun ketika kami “perempuan” dengan nasib yang cukup baik dan berpendidikan, berhasil mendapatkan suatu hak politik, ekonomi ataupun sosial, dan mendapatkan kenyamanan serta kemapanan hidup secara personal. Ketika sedang sendirian atau dalam situasi tertentu. Dijejaki rasa bersalah dan merasa telah menyimpang. Merasa bukan muslim yang baik, dan bukan perempuan yang baik. Ini semua hanya masalah interperetasi, ini masalah yang seharusnya kami "perempuan" mengerti.

Sama halnya ketika gue mengerti masalah hijab. Ketika memutuskan berhijab, gue merasa ada satu keharusan akan pengidentitasan simbol yang gue ikuti. Gue diidentifikasikan seorang yang lebih baik, lebih religious, lebih santun or anything. Dan masalahnya gue berhijab bukan karna itu, bukan karna gue telah bereduksi menjadi muslimah sejati, tapi lebih kepada gue sedang membandingkan arti kenyamanan diri. Namun ketika memakai hijab, gue merasa ada sebuah kepasifan dan ketidak ingintahuan orang-orang disekitar, ada sekat tajam yang membatasi dan melindungi cara berfikir dan bertutur kata yang coba gue ungkapkan, lalu apa ini dan apa-apan ini?
Kenapa ketika gue mentupi tubuh.  Terasa seakan gue menjadi perempuan yang telah menutup diri?
Lagi-lagi ketika gue memutuskan mengikuti aturan ini, aturan yang mengislamisasi ini. gue makin tenggelam dalam pertanyaan diskrimasi Tuhan…

Dan akhirnya gue kembali “iqra” disitulah gue tahu bahwa sejarah dunia periklanan , bukan hanya iklan modern tpi juga masa sebelumnya, sejak berabad-abad tahun lalu selalu tubuh perempuan lah yang dijadikan objek reklame. Ini bisa jadi karna tubuh perempuan diciptakan sedemikian sehingga cocok untuk itu, dan bisa jadi dalam masyarakat patriarkis perempuan selalu menjadi objek seks. dan ketika gue coba mengkaitkannya dengan perintah Tuhan dalam Qur’an yang mengatakan kepada perempuan "jangan berpakaian dan bertingkah laku seperti  objek seks, supaya orang tak bisa menuduhmu dengan mengatakan engkau ingin diperlakukan spt itu". Dan disitu jelas ditulis “hai nabi katakan pada istri-istrimu dan kaum perempuan yang beriman bahwa jika meninggalkan rumah mereka harus memakai purdah, agar mereka dianggap sebagai perempuan saleh dan tidak diganggu. Setelah membaca sejarah periklanan tanpa sengaja dan mencoba  membandingkan sabda Tuhan dalam Qur'an dengan melihat konteks pada masa itu, gue sadar bahwa Qur’an sama sekali tak mengatakan bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah atau bekerja diluar rumah lalu menutup diri, namun mereka diperintahkan demikian dan diperlakukan demikian suapaya dipandang dan diperlakukan secara baik-baik dan tidak diganggu. Disini lah gue mngerti Tuhan begitu pengasih.

Satu hal yang kini gue mengerti  bahwa agama apapun itu namanya, dan Tuhan seperti apapun itu bentuknya.. dia penuh kasih. Agama itu terkait dengan kasih sayang dan kebahagiaan,  Agama adalah pengenalan dengan Tuhan untuk menghasilkan akhlak yang baik. Akhlak yang baik itu adalah silaturahim . dan silaturahim itu seperti memasukkan rasa bahagia kedalam hati kita. So, untuk apa kita beragama jika kita masih saling membenci, untuk apa kita memeluk agama jika menjadikan kita intoleransi. Jadi hiduplah beragama, karna agamalah yang menjadikan kita hidup bahagia. jika kita beragama tapi masih merasa tidak bahagia dan selalu menampak kan muka masam, muram dan dengki. lah buat apa..buat apa kita beragama tapi masi berprasangka benci pada orang, jangankan pada orang pada Tuhan dan diri pun demikian..
Tuhan sendiri pernah berkata bahwa” aku adalah seperti apa yang kamu sangkakan kepadaku”

Dan kini gue telah berhasil menyempitkan pemikiran dan melapangkan hati untuk lebih berprasangka baik terhadap Tuhan dengan segala ketentuan yang dia berikan, dengan segala kebaikan yang coba dia samarkan.


Dan pencarian makna ini akan terus berlanjut Tuhan..
Dan semoga engkau terus menyentuh hatiku~dan membukakan pikiranku


best regards 
Milla hanifah

Kamis, 28 Maret 2013

first ever barbie doll




This teen fashion model hit the scene march 9, 1959. Wearing nothing but a black and white zebra striped bathing suit, black opened toe shoes, and gold earring. She had blonde hair, red painted lips, full breast, small waist, and long slender legs.   And every young girl white or black had to have her and wanted to be her. Barbie was the got to have doll in 1959 till this day worldwide.   During my youth my sister and I wanted her too. Forbirthdays and every time we saw a new commercial for her.
While during some research about Barbie, I came across the first  Barbie commercial. While watching the commercial I’ve notice a woman singing a song in the background. 

“Barbie you're beautiful
You make me feel
My Barbie doll is really real
Barbie's small and so petite,
Her clothes and figure look so neat
Her dancing outfits ring some bells
At parties she will cast a spell
Purses, hats, and gloves galore
And all the gadgets gals adore.
Someday, I'm going to be
Exactly like you
Till then I know just what I'll do...
Barbie, beautiful Barbie
I'll make believe that I am you.”

My attention zoomed in on the lyrics “Her clothes and figure look so neat” and then a siren went off in my mind when I heard “Someday, I'm going to be exactly like you”. I was unaware that Barbie had a song and very disturb about the lyrics I’ve heard. The lyrics were very disturbing to me because the children listening to this was being subjected to the media’s standards of the way a woman suppose to look physically.
oh my godness please, protect my daughter and all girls in the world from barbie doll

Kamis, 14 Maret 2013

#undergraduate thesis


finally,, my title "barbie" has accepted.yeah, i feel like win the lottery when i knew that. because, yesterday my feeling was so blimmed but, look at me now..i'm really happy
anyhow after my title final's project rejected. i have some time to have my mentally stable (well, “mentally stable” is a strong phrase… maybe safer to go with “slightly less unstable”?LOL), and then now i'm getting anxiously excited to start my undergraduate thesis.

2013-->it's going to be quite a year,in which I will (presumably) graduate from college(hopefully),,

But that’s all a ways off, so, College, as Ke$ha would say, “let’s make the most of the night like we’re going to die young.”  (“Die” clearly meaning “graduate,” and “young” meaning “in just under five months.”  This song is about meeee!)  oh my godness in five months i have to finish my college..........
i'm still dreaming how if i don't write my undergraduate thesis and you still give me an A+ sir?