Siang hari ini didalam kamar berukuran 4x6 m persegi, aku
kembali membuka kotak persegi empat berwarna hitamku, dan kembali menyapa
huruf-huruf kecil yang merepresentasikan rasa dan asaku tentang sesuatu. Hari
ini genap sudah 10 hari aku menadi lacto vegetarian. Keputusanku adalah
berdasarkan pertimbangan yang matang namun bukan melulu sebab dari kesehatan,
melainkan secara spritual dan dorongan hati aku ingin menjadi itu. Adalah pertama
karna istilah “you’re what you eat” bagiku ini bukan hanya sekedar ungkapan,
namun kalimat ini mengandung makna filosofis yang mendogmatisku, yang bisa
mengantarkanku pada jiwa bersahaja berkepanjangan atau rasa ingin merasakan ini
itu demi memenuhi egoku.
Menurutku, hidup ini adalah
tentang melewati rasa suka dan duka. Dan dalam hidup ini makanan menjadi faktor
penting untuk kita bisa belajar melampaui rasa itu. Makanan bukan hanya tentang
mengisi perut dan menghilangkan rasa lapar. Makanan kini sudah beralih fungsi
menjadi rasa gengsi . Makanan kini ditampilkan dengan pencitraan sedemikian
rupa yang akan merepresentasikan orang yang memakannya. Makanan dihadirkan
dalam berbagai bentuk rasa dan penampilan, disajikan ditempat-tempat yang
dipenuhi daya tarik rasa dan selera sipemakannya.
Terkadang kita makan dan memilih tempat tersebut bukan karna
kita suka makanannya, tapi karna kita suka tempat makannya. Ada juga yang
memilih makanan bukan karna dia lapar dan ingin makan tapi karna dia suka
makanannya. Dan ada juga yang makan bukan karna dia boleh memakan makanannya
tapi karna dia suka dan ingin makan makanan itu. Jadi perkara makanan ini adalah
bukan hanya sekedar makan, tetapi bagaimana kita melewati fase rasa suka itu.
Dalam islam Tuhan memerintahkan kita untuk berpuasa di bulan
khusus selama 1 bulan bukan perkara kita menahan makan disiang hari dan
menggantinya dengan malam hari, yah memang puasa bisa dibilang perubahan jadwal
waktu makan, namun ketika mulai memahaminya lebih mendalam, puasa adalah satu
kegiatan dimana kita menahan dan melawan rasa ingin dan rasa suka itu. Jadi perkara
makan bagiku sesuatu yang kompleks, dan jika dibicarakan dan aku coba berikan
penjelasan dari berbagai perspektif mulai dari agama, kesehatan, psikologis,
ekonomi, akan menghasilkan beragam pemikiran dan pengertian yang panjang.
Namun aku coba mengerucutkan pemikiranku tentang makanan ini
pada satu istilah diatas tadi. You are what you eat. Silahkan anda kategorikan
sendiri diri anda pemakan apa, suka makan apa dan seperti apa kira-kira anda
sekarang?
Di islam sendiri Tuhan tidak melarang umatnya memakan daging,
kecuali babi dan anjing. Namun ada cara-cara khusus yang kita lakukan ketika
hendak memotongnya, dengan diperlakukan baik dan didoakan. Bukan serta merta dipotong
dalam keadaan paksa dan dalam keadaan stress binatangnya karna ketakutan. Namun
fakta yang banyak terjadi, permintaan masyarakat yang begitu tinggi pada daging
menjadikan si ayam, sapi, kambing bahkan kelinci dikembangbiakan, dipotong terus
menerus dengan cara massal dan tidak selalu diperlakukan baik ketika hendak
dipotong. Tak heran hal-hal ini yang bisa dijadikan salah satu alasan banyak
makanan yang dihasilkan dari binatang ini melahirkan beragam penyakit. Aku
masih makan daging dan aku masih ingin makan daging. Namun ketika aku tahu
bagaimana proses potongnya dan di seperti apakan. Ribet memang. Tapi ini
prinsip.
Aku meyakini bahwa merekapun mahkluk Tuhan, dan harus
diperlakukan dengan baik. Bukan serta merta hanya demi memenuhi rasa
suka itu aku mengenyampingkan rasa peduliku tentang hal ini. Berbeda halnya
dengan tumbuh-tumbuhan yang memang ketika dipetik dan diambil harus dalam
keadaan diambil. Tidak didiamkan membusuk dan terus menerus dipohon. Jadi
inilah satu dari sekian alasan aku memutuskan menjadi lacto vegetarian. Tentang
bagaimana aku belajar melampaui rasa suka itu. Dan kini semua rasa melebur menjadi sama. Antara suka
dan duka terasa sama. Antara enak dan tidak enak yah sama. Toh ini semua hanya bersoalan dengan rasa.
Yang datang dan pergi tak terasa. Dan seperti yang kita tahu yang di lalukan
hewan hanyalah Makan dan Sex. Dan aku rasa wajar ketika orang-orang yang sering
makan katakanlah enak-enak dan yang dia suka. Terkadang hanya memikirkan
bagaimana isi kantong, yang berujung pada isi perut dan Sex.
Aku tidak ingin makananku merepresentasikan itu, dan aku ingin
menggali potensi diriku untuk bukan kalah dengan rasa suka.. tapi bisa melampaui rasa itu.
Terus belajar menjadi makhluk Tuhan yang peduli dengan sesama
mahkluk ciptaannya, sesuai dengan apa yang diperintahkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar