Heart Chat Bubble

Selasa, 12 Agustus 2014

why be a vegetarian?



Siang hari ini didalam kamar berukuran 4x6 m persegi, aku kembali membuka kotak persegi empat berwarna hitamku, dan kembali menyapa huruf-huruf kecil yang merepresentasikan rasa dan asaku tentang sesuatu. Hari ini genap sudah 10 hari aku menadi lacto vegetarian. Keputusanku adalah berdasarkan pertimbangan yang matang namun bukan melulu sebab dari kesehatan, melainkan secara spritual dan dorongan hati aku ingin menjadi itu. Adalah pertama karna istilah “you’re what you eat” bagiku ini bukan hanya sekedar ungkapan, namun kalimat ini mengandung makna filosofis yang mendogmatisku, yang bisa mengantarkanku pada jiwa bersahaja berkepanjangan atau rasa ingin merasakan ini itu demi memenuhi egoku.

Menurutku,  hidup ini adalah tentang melewati rasa suka dan duka. Dan dalam hidup ini makanan menjadi faktor penting untuk kita bisa belajar melampaui rasa itu. Makanan bukan hanya tentang mengisi perut dan menghilangkan rasa lapar. Makanan kini sudah beralih fungsi menjadi rasa gengsi . Makanan kini ditampilkan dengan pencitraan sedemikian rupa yang akan merepresentasikan orang yang memakannya. Makanan dihadirkan dalam berbagai bentuk rasa dan penampilan, disajikan ditempat-tempat yang dipenuhi daya tarik rasa dan selera sipemakannya.

Terkadang kita makan dan memilih tempat tersebut bukan karna kita suka makanannya, tapi karna kita suka tempat makannya. Ada juga yang memilih makanan bukan karna dia lapar dan ingin makan tapi karna dia suka makanannya. Dan ada juga yang makan bukan karna dia boleh memakan makanannya tapi karna dia suka dan ingin makan makanan itu. Jadi perkara makanan ini adalah bukan hanya sekedar makan, tetapi bagaimana kita melewati fase rasa suka itu. 

Dalam islam Tuhan memerintahkan kita untuk berpuasa di bulan khusus selama 1 bulan bukan perkara kita menahan makan disiang hari dan menggantinya dengan malam hari, yah memang puasa bisa dibilang perubahan jadwal waktu makan, namun ketika mulai memahaminya lebih mendalam, puasa adalah satu kegiatan dimana kita menahan dan melawan rasa ingin dan rasa suka itu. Jadi perkara makan bagiku sesuatu yang kompleks, dan jika dibicarakan dan aku coba berikan penjelasan dari berbagai perspektif mulai dari agama, kesehatan, psikologis, ekonomi, akan menghasilkan beragam pemikiran dan pengertian yang panjang.

Namun aku coba mengerucutkan pemikiranku tentang makanan ini pada satu istilah diatas tadi. You are what you eat. Silahkan anda kategorikan sendiri diri anda pemakan apa, suka makan apa dan seperti apa kira-kira anda sekarang?

Di islam sendiri Tuhan tidak melarang umatnya memakan daging, kecuali babi dan anjing. Namun ada cara-cara khusus yang kita lakukan ketika hendak memotongnya, dengan diperlakukan baik dan didoakan. Bukan serta merta dipotong dalam keadaan paksa dan dalam keadaan stress binatangnya karna ketakutan. Namun fakta yang banyak terjadi, permintaan masyarakat yang begitu tinggi pada daging menjadikan si ayam, sapi, kambing bahkan kelinci dikembangbiakan, dipotong terus menerus dengan cara massal dan tidak selalu diperlakukan baik ketika hendak dipotong. Tak heran hal-hal ini yang bisa dijadikan salah satu alasan banyak makanan yang dihasilkan dari binatang ini melahirkan beragam penyakit. Aku masih makan daging dan aku masih ingin makan daging. Namun ketika aku tahu bagaimana proses potongnya dan di seperti apakan. Ribet memang. Tapi ini prinsip.

Aku meyakini bahwa merekapun mahkluk Tuhan, dan harus diperlakukan dengan baik. Bukan serta merta hanya demi memenuhi rasa suka itu aku mengenyampingkan rasa peduliku tentang hal ini. Berbeda halnya dengan tumbuh-tumbuhan yang memang ketika dipetik dan diambil harus dalam keadaan diambil. Tidak didiamkan membusuk dan terus menerus dipohon. Jadi inilah satu dari sekian alasan aku memutuskan menjadi lacto vegetarian. Tentang bagaimana aku belajar melampaui rasa suka itu. Dan kini  semua rasa melebur menjadi sama. Antara suka dan duka terasa sama. Antara enak dan tidak enak yah sama.  Toh ini semua hanya bersoalan dengan rasa. Yang datang dan pergi tak terasa. Dan seperti yang kita tahu yang di lalukan hewan hanyalah Makan dan Sex. Dan aku rasa wajar ketika orang-orang yang sering makan katakanlah enak-enak dan yang dia suka. Terkadang hanya memikirkan bagaimana isi kantong, yang berujung pada isi perut dan Sex.
Aku tidak ingin makananku merepresentasikan itu, dan aku ingin menggali potensi diriku untuk bukan kalah dengan rasa suka.. tapi bisa  melampaui rasa itu.
Terus belajar menjadi makhluk Tuhan yang peduli dengan sesama mahkluk ciptaannya, sesuai dengan apa yang diperintahkannya.