Pukul 01.34 WIB, dihari minggu pada
tanggal 24 maret 2019, aku tidak bisa memajamkan mata. Tiba-tiba tergerak
kembali untuk menuangkan pikiranku melalu tulisan blog ini, setelah hampir 4
Tahun aku tidak pernah membuka blog atau bahkan menulis sesuatu.
Banyak kejadian yang aku lewati
selama 4 tahun ini yang membuatku seakan menjadi orang yang baru, aku hampir tak
lagi suka membaca ataupun menulis. Bagi bebrapa orang kenal dekat denganku
tentunya tahu dan sudah mengenal sisi idealismeku, namun selama 4 tahun
belakangan ini, dengan berbagai transisi
kehidupan yang aku alami, dari bekerja, menikah hingga saat ini melahirkan
seorang anak. Aku benar-benar sangat berubah. Pemikiran ku pada saat masih muda
yang selalu aku tuangkan dalam tulisan
yang berkaitan dengan feminitas sudah tidak ada. Dan kini bahkan aku berada
diranah domestik rumah tangga, menyelami peran itu, dengan berusaha tetap
mempertahankan idealismeku dalam kenyataan yang sebenarnya. Tidak mudah untuk
menahkodai diri ketika sudah menikah dan memiliki seorang imam.
Banyak hal yang bukan lagi
pertimbangan seorang diri, ini yang membuatku merasa seakan kehilangan jati
diri.
Namun seiring berjalannya hari, aku
sadar bahwa masa transisi ini bukan menjadi pembenaran untuk aku tidak mempelajari
atau melakukan sesuatu yang aku sukai.
Aku tetap perlu meluangkan waktu ku
seorang diri, kembali lagi mengenal diri, bukan sebagai milla yang dikenal
kantor, milla yang istrinya siapa, milla yang ibu dari siapa. Tapi milla yang
Tuhan hadirkan kebumi untuk sebuah tujuan tentunya.
Tuhan ijinkan aku hidup disini tentu
punya tujuan untuk aku mencapai eksistensiku sendiri tanpa mengabaikan tugasku
di ranah domestik. Milla seorang yang koleris introvert ini tentu memiliki
potensi yang bukan hanya sebagai pendukung dan pendamping kesuksesan anak dan
suami. Tetapi seorang pribadi yang diberikan potensi diri.
Terkadang atsmosfer kompetitif di
lingkungan kerja dan sosial, bahkan dilingkungan media sosial sedikit banyaknya
mengkontaminasiku. Menjadikanku membagikan rasa kebanggan diri yang tanpa aku
sadari berujung pada kesombongan diri. Sangat bukan aku dan aku benci sikap
ini.
Atsmosfer kompetitif ini baru aku
sadar sangat membelengguku dan menjadikanku seorang yang penuh persepsi negatif
belakangan ini. Sangat bukan milla yang aku kenal di 6 tahun yang lalu, tepatnya
di 2013, sebelum pindah bekerja kejakarta.
Dia dulu seorang yang sangat
optimis, dan tidak pernah lupa bersyukur. Namun ketika aku menilik kedalam diri
belakangan ini, aku telah melukai kepribadianku sendiri dengan terlalu menempa
diri untuk sukses, yang berakhir pada sifat yang tidak pernah puas akan
pencapaian diri. Sebenarnya positif, akan tetapi terlalu membebani diri
terkadang membuatku menjadi lupa diri.
Beruntung dimalam ini, aku mulai
kembali mengenali diriku lagi, dan sangat bersyukur dengan apa yang aku lewati.
Tulisanku malam ini adalah tentang
diriku sendiri, dan memang sebagian besar tulisanku disini adalah tentang
pemikiranku. Membosankan memang, akan tetapi aku akan tetap menulis tentang
pemahaman diri, yang aku tuangkan melalui blog ini. Karna bagiku blog ini adalah
sebuah perjalanan dari sebuah proses berfikir yang aku lewati.
Tidak ada konklusi memang ditulisan
kali ini, karna memang hanya bentuk pengenalan lagi jati diri yang aku tulis
untuk mengingatkan diriku sendiri.