Heart Chat Bubble

Sabtu, 23 Maret 2019

cara bersikap ketika kamu merasa tak berharga ataupun sedang berputus asa

Tulisan ini aku buat untuk anak pertamaku Malika Shokoufah Arthawidya.
aku menulis ini berharap suatu saat ketika dia sedang kecewa dengan dirinya sendiri ataupun berputus asa tulisan ini membangkitkan rasa percaya dirinya lagi. dan ketika pun aku sudah tidak ada, dipanggil sang pencipta tulisan ini akan tetap ada untuk menemani dan menyemangatinya.



Untuk anakku Malika..
kamu harus tahu.. 
bunda besarkan dan merawatmu dengan penuh cinta..
jadi jangan buat dirimu menjadi tak berharga.


bunda mendidikmu dengan penuh harap..
jadi jangan pernah berputus asa.

Ingat 2 pesan ini yah nak!

Setiap kali kamu merasa sakit hati, dikecewakan, disepelekan atau dikhianati. mampirlah kepanti asuhan balita, lihat anak-anak bayi disana yang besar tanpa keluarga. kamu harus tahu betapa beruntungnya kamu, bersyukurlah nak, jangan merasa tak berharga. 

Setiap kali kamu merasa putus asa atau apa yang kamu cita-citakan belum terlaksana, pergilah kepanti jompo. lihat para orangtua disana. betapa kamu masih punya waktu untuk kembali berusaha, jadi teruslah mencoba jangan berputus asa.

jangan buat dirimu jatuh kecewa terlalu dalam, kendalikan emosimu, fokuskan langkahmu, perbaiki kekuranganmu dan yakinkan pada pikiranmu bahwa kamu bisa mendapatkannya, tidak saat ini tapi Allah akan kasih jalan-NYA.

Pikiran negatif tidak akan melukai siapa-siapa kecuali dirimu sendiri. jadilah kuat, jadilah baik dalam kondisi sulit sekalipun, dan ingat bahwa kamu berharga. Teruslah semangat kejar mimpimu, jangan berputus asa.







kembali mengenal diri


Pukul 01.34 WIB, dihari minggu pada tanggal 24 maret 2019, aku tidak bisa memajamkan mata. Tiba-tiba tergerak kembali untuk menuangkan pikiranku melalu tulisan blog ini, setelah hampir 4 Tahun aku tidak pernah membuka blog atau bahkan menulis sesuatu.

Banyak kejadian yang aku lewati selama 4 tahun ini yang membuatku seakan menjadi orang yang baru, aku hampir tak lagi suka membaca ataupun menulis. Bagi bebrapa orang kenal dekat denganku tentunya tahu dan sudah mengenal sisi idealismeku, namun selama 4 tahun belakangan ini, dengan  berbagai transisi kehidupan yang aku alami, dari bekerja, menikah hingga saat ini melahirkan seorang anak. Aku benar-benar sangat berubah. Pemikiran ku pada saat masih muda yang  selalu aku tuangkan dalam tulisan yang berkaitan dengan feminitas sudah tidak ada. Dan kini bahkan aku berada diranah domestik rumah tangga, menyelami peran itu, dengan berusaha tetap mempertahankan idealismeku dalam kenyataan yang sebenarnya. Tidak mudah untuk menahkodai diri ketika sudah menikah dan memiliki seorang imam.
Banyak hal yang bukan lagi pertimbangan seorang diri, ini yang membuatku merasa seakan kehilangan jati diri.

Namun seiring berjalannya hari, aku sadar bahwa masa transisi ini bukan menjadi pembenaran untuk aku tidak mempelajari atau melakukan sesuatu yang aku sukai.

Aku tetap perlu meluangkan waktu ku seorang diri, kembali lagi mengenal diri, bukan sebagai milla yang dikenal kantor, milla yang istrinya siapa, milla yang ibu dari siapa. Tapi milla yang Tuhan hadirkan kebumi untuk sebuah tujuan tentunya.

Tuhan ijinkan aku hidup disini tentu punya tujuan untuk aku mencapai eksistensiku sendiri tanpa mengabaikan tugasku di ranah domestik. Milla seorang yang koleris introvert ini tentu memiliki potensi yang bukan hanya sebagai pendukung dan pendamping kesuksesan anak dan suami. Tetapi seorang pribadi yang diberikan potensi diri.

Terkadang atsmosfer kompetitif di lingkungan kerja dan sosial, bahkan dilingkungan media sosial sedikit banyaknya mengkontaminasiku. Menjadikanku membagikan rasa kebanggan diri yang tanpa aku sadari berujung pada kesombongan diri. Sangat bukan aku dan aku benci sikap ini.
Atsmosfer kompetitif ini baru aku sadar sangat membelengguku dan menjadikanku seorang yang penuh persepsi negatif belakangan ini. Sangat bukan milla yang aku kenal di 6 tahun yang lalu, tepatnya di 2013, sebelum pindah bekerja kejakarta.

Dia dulu seorang yang sangat optimis, dan tidak pernah lupa bersyukur. Namun ketika aku menilik kedalam diri belakangan ini, aku telah melukai kepribadianku sendiri dengan terlalu menempa diri untuk sukses, yang berakhir pada sifat yang tidak pernah puas akan pencapaian diri. Sebenarnya positif, akan tetapi terlalu membebani diri terkadang membuatku menjadi lupa diri.

Beruntung dimalam ini, aku mulai kembali mengenali diriku lagi, dan sangat bersyukur dengan apa yang aku lewati.
Tulisanku malam ini adalah tentang diriku sendiri, dan memang sebagian besar tulisanku disini adalah tentang pemikiranku. Membosankan memang, akan tetapi aku akan tetap menulis tentang pemahaman diri, yang aku tuangkan melalui blog ini. Karna bagiku blog ini adalah sebuah perjalanan dari sebuah proses berfikir yang aku lewati.
Tidak ada konklusi memang ditulisan kali ini, karna memang hanya bentuk pengenalan lagi jati diri yang aku tulis untuk mengingatkan diriku sendiri.