Ketika
gue memulai mereview dan membaca beberapa tulisan diblog ini. Gue merasa bahwa
apa yang gue tulis disitu penuh dengan kemarahan, kebencian, prasangka buruk
yang berujung pada sebuah kritikan tentang pengharapan yang tak kunjung
mendapatkan penghargaan.
Dunia
ini seakan banyak mempertontonkan ketidakadilan, diskriminasi, intoleransi, dan
ketidakpedulian. Hingga pada akhirnya gue mengerti. Bahwa tidak hanya mereka dan
dia yang mengalami krisis bahagia dan cinta kasih, tetapi gue pribadi telah
meyelami rasa itu…
Semakin
gue memikirkan ini semakin gue merasa penting untuk memecahkan masalah dalam
diri, tentang diskriminasi tentang wujud caci dan apresiasi terhdap diri. Sebagai
seorang wanita gue semakin mengkaji, apa hakikat gue hadir di muka bumi..
Dan
semakin gue kaji semakin gue mengerti bahwa tubuh ini hanyalah sebuah properti,
yang satu ketika akan dibawa pergi oleh sang kekasih yang kelak menjadi pengganti,
pengganti papaku nanti..
Apa
yang bisa gue perbuat dengan tubuh mungil ini yang penuh dikriminasi?
Ketika
gue menguji dan memompa diri untuk menjadi terpuji, yang gue dapatkan hanya
sebuah jeruji…
Jangan
kesana, jangan kemari.. jangan sekolah tinggi-tinggi,, karna engkau sang putri,
putri yang tak pantas berlari…
Kau
hendaklah menanti, tak pantas diuji..
Kau
baiknya menangis tak harus rasionalist..
Kau
haruslah bermanis tak baik menjadi egois..
Semua
itu dipertuntut kan kepada gue sebagai seorang wanita,yang sekan hidup dalam privatisasi.
Ok
ditulisan ini gue coba ganti sudut
pandang budaya ini menjadi lebih normatif, gue beralih mencari sang spiritualist
untuk menyirami rasa haus akan pengatahuan yang naturalis,,
Akhirnya
pengertian akan diri yang gue dapatkan adalah bahwa:
Adam
di murkai Tuhan dan diusir kebumi itu karna bujukan hawa yang memintanya makn
buah khaldun, dan bahwa wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki,
hendaklah berdosa baginya menampakkan setengah anggota tubuhnya kepada laki-laki,
sudah pasti wanita itu lebih banyak masuk neraka ketimbang lelaki, dia berdosa
ketika menolak pada suami untuk disetubuhi, diapun berdosa ketika pergi tanpa seijin suami,
dia berdosa ketika ingin memimpin, dia tak pantas untuk dijadikan
inspirasi, kalopun dia dijadikan sebagai sesosok yang menginspirasi, itu semua
tidak terlepas dari kemolekan tubuhnya yang mengantisipasi…
dan
kenapa?kenpa…. jika satu negara atau pemerintahan ingin melakukan islamisasi,
tindakan pertama yang dilakukan adalah memaksa perempuan masuk kedalam rumah
dan menutupi diri?
Apakah
itu sebuah sudut pandang islam yang coba di interpretasi kebnyakan orang secara
dangkal tanpa berdiskusi…?
Semakin
gue pelajari, itu terasa semakin tidak masuk akal untuk gue pribadi. Karna bukankah
Tuhan Maha Pengasih, lalu kenapa begitu diskriminasi?
Semua
aturan-aturan ini menampakkan gue pada kesadaran bahwa ada sebuah masalah
diskrimasi dan ketidakadilan perempuan dalam masyarakat islam melalui
interpretasi teks Al-Qur’an.
Masalahnya,
Kenapa?kenapa bisa terjadi?
Akhirnya
gue mencoba memplajari ini, dan mengimani bahwa Qur’an itu memuat sebuah
cerita-cerita dan mitologi yang
dibungkus dalam harfiah dan pralambang. Penafsirannya sangat tergantung dari
cara pandang kita, bagaimana kita memahaminya secara harfiah atau sebagai
pralambang. Dua cara pandang yang berbeda itu akan menghasilkan penafsiran yang
berbeda pula. Banyak orang yang menyatakan dan menganggap telah menafsirkannya
secara harfiah, tapi bukankah bahasa arab adalah bahasa yang bertumpu pada
akar kata?...
Untuk
mengtahui satu kata arab kita hrus bertumpu pada akar katanya. Dan masalahnya
adalah akar kata itu mempunyai puluhan bahkan ratusan arti sesuai konteksnya,,
So,
bukankah itu berarti satu kata,selain bergantung pada akar, bergantung pula
pada konteksnya?.. maka sungguh tidak mungkin mengartikan kata-kata arab tapa
mempertimbangkan atau mengetahui konteksnya tersebut.
Berbekal
hal ini gue semakin ingin tahu, kenapa wanita haram untuk keluar rumah, kenapa
wanita harus menutupi tubuhnya dan laki-laki tidak, apakah karna konteks pada
masa itu?
Namun
bukankah Al quran sendri merupakan pedoman hidup untuk masa lalu , kini dan masa depan?
Lalu
seperti apa gue harus mereinterpretasi setiap ayat-ayat itu?
Ayat-ayat
yang seakan mendiskreditkan gue sebagai wanita?
Apakah
yang gue lakukan ini adalah upaya rasionalisasi al-Qur’an yang sia-sia?
Entahlah,
tapi gue berangkat memboncengi pemikiran ini sebagai seorang yang beriman “ a true believer”. Gue perrcaya Al
qur’an merupakan sabda Tuhan yang menjadi norma ideal islam dan diberikan
sebagi pedoman bagi umat manusia masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Namun
gue hadir dengan sebuah prasangka bahwa argumen keagamaan yang coba
direalitaskan ini adalah hasil interpretasi dan aturan-aturan kegamaan yang
dibuat kaum lelaki.
dan masalahnya adalah gue
yakin bahwa Tuhan itu bukanlah laki-laki, Tuhan itu adil, Maha penyayang dan
tidak mendiskriminasikan antara perempuan dan laki-laki. gue percaya perempuan
itu sejajar dengan laki-laki, namun sangat dan masih banyak perempuan islam
yang menganggap dirinya tidak sejajar dengan laki-laki, karna selama ini
perempuan islam selalu disosialisasikan demikian. Sepanjang masa, selam beratus-ratus
tahun, kami “perempuan” diajarkan untuk merasa serba kurang dibanding
laki-laki. Dan kami “perempuan” diciptakn dari rusuk adam, dan rusuk itu adalah
rusuk yang bengkok. Dan kami “perempuan” diceritakan sebagai penyebab adam
terlempar keluar dari surga. Dan kami “perempuan” diciptakan untuk melayani
laki-laki. Dan itu yang menjadikan kami “perempuan” makhluk inferior dan sulit
untuk tak merasa berarti.
Namun
ketika kami “perempuan” dengan nasib yang cukup baik dan berpendidikan, berhasil
mendapatkan suatu hak politik, ekonomi ataupun sosial, dan mendapatkan kenyamanan
serta kemapanan hidup secara personal. Ketika sedang sendirian atau dalam
situasi tertentu. Dijejaki rasa bersalah dan merasa telah menyimpang. Merasa bukan
muslim yang baik, dan bukan perempuan yang baik. Ini semua hanya masalah
interperetasi, ini masalah yang seharusnya kami "perempuan" mengerti.
Sama halnya ketika gue mengerti masalah hijab. Ketika memutuskan berhijab, gue merasa ada satu keharusan akan pengidentitasan simbol yang gue ikuti. Gue diidentifikasikan seorang yang lebih baik, lebih religious, lebih santun or anything. Dan masalahnya gue berhijab bukan karna itu, bukan karna gue telah bereduksi menjadi muslimah sejati, tapi lebih kepada gue sedang membandingkan arti kenyamanan diri. Namun ketika memakai hijab, gue merasa ada sebuah kepasifan dan ketidak ingintahuan orang-orang disekitar, ada sekat tajam yang membatasi dan melindungi cara berfikir dan bertutur kata yang coba gue ungkapkan, lalu apa ini dan apa-apan ini?
Sama halnya ketika gue mengerti masalah hijab. Ketika memutuskan berhijab, gue merasa ada satu keharusan akan pengidentitasan simbol yang gue ikuti. Gue diidentifikasikan seorang yang lebih baik, lebih religious, lebih santun or anything. Dan masalahnya gue berhijab bukan karna itu, bukan karna gue telah bereduksi menjadi muslimah sejati, tapi lebih kepada gue sedang membandingkan arti kenyamanan diri. Namun ketika memakai hijab, gue merasa ada sebuah kepasifan dan ketidak ingintahuan orang-orang disekitar, ada sekat tajam yang membatasi dan melindungi cara berfikir dan bertutur kata yang coba gue ungkapkan, lalu apa ini dan apa-apan ini?
Kenapa
ketika gue mentupi tubuh. Terasa seakan
gue menjadi perempuan yang telah menutup diri?
Lagi-lagi
ketika gue memutuskan mengikuti aturan ini, aturan yang mengislamisasi ini. gue
makin tenggelam dalam pertanyaan diskrimasi Tuhan…
Dan
akhirnya gue kembali “iqra” disitulah gue tahu bahwa sejarah dunia periklanan ,
bukan hanya iklan modern tpi juga masa sebelumnya, sejak berabad-abad tahun
lalu selalu tubuh perempuan lah yang dijadikan objek reklame. Ini bisa jadi
karna tubuh perempuan diciptakan sedemikian sehingga cocok untuk itu, dan bisa
jadi dalam masyarakat patriarkis perempuan selalu menjadi objek seks. dan ketika gue coba mengkaitkannya dengan perintah Tuhan dalam Qur’an yang mengatakan kepada perempuan "jangan berpakaian dan bertingkah laku seperti objek seks, supaya orang tak bisa menuduhmu
dengan mengatakan engkau ingin diperlakukan spt itu". Dan disitu jelas ditulis “hai nabi katakan pada istri-istrimu dan kaum perempuan yang beriman bahwa jika meninggalkan
rumah mereka harus memakai purdah, agar mereka dianggap sebagai perempuan saleh
dan tidak diganggu. Setelah membaca sejarah periklanan tanpa sengaja dan mencoba membandingkan sabda Tuhan dalam Qur'an dengan melihat konteks pada masa itu,
gue sadar bahwa Qur’an sama sekali tak mengatakan bahwa perempuan tidak boleh
keluar rumah atau bekerja diluar rumah lalu menutup diri, namun mereka
diperintahkan demikian dan diperlakukan demikian suapaya dipandang dan diperlakukan
secara baik-baik dan tidak diganggu. Disini lah gue mngerti Tuhan begitu pengasih.
Satu
hal yang kini gue mengerti bahwa agama
apapun itu namanya, dan Tuhan seperti apapun itu bentuknya.. dia penuh kasih. Agama
itu terkait dengan kasih sayang dan kebahagiaan, Agama adalah pengenalan
dengan Tuhan untuk menghasilkan akhlak yang baik. Akhlak yang baik itu adalah
silaturahim . dan silaturahim itu seperti memasukkan rasa bahagia kedalam hati
kita. So, untuk apa kita beragama jika kita masih saling membenci, untuk apa
kita memeluk agama jika menjadikan kita intoleransi. Jadi hiduplah beragama,
karna agamalah yang menjadikan kita hidup bahagia. jika kita beragama tapi masih merasa tidak bahagia dan selalu menampak kan muka masam, muram dan dengki. lah buat apa..buat apa kita beragama tapi masi berprasangka benci pada orang, jangankan pada orang pada Tuhan dan diri pun demikian..
Tuhan
sendiri pernah berkata bahwa” aku adalah seperti apa yang kamu sangkakan
kepadaku”
Dan
kini gue telah berhasil menyempitkan pemikiran dan melapangkan hati untuk lebih
berprasangka baik terhadap Tuhan dengan segala ketentuan yang dia berikan,
dengan segala kebaikan yang coba dia samarkan.
Dan
pencarian makna ini akan terus berlanjut Tuhan..
Dan
semoga engkau terus menyentuh hatiku~dan membukakan pikiranku
best regards
Milla hanifah
best regards
Milla hanifah