Heart Chat Bubble

Sabtu, 20 April 2013

my perspective : feminisme dan Al-Qur'an *antara intelektualisme dan ekstremisme


Ketika gue memulai mereview dan membaca beberapa tulisan diblog ini. Gue merasa bahwa apa yang gue tulis disitu penuh dengan kemarahan, kebencian, prasangka buruk yang berujung pada sebuah kritikan tentang pengharapan yang tak kunjung mendapatkan penghargaan.
Dunia ini seakan banyak mempertontonkan ketidakadilan, diskriminasi, intoleransi, dan ketidakpedulian. Hingga pada akhirnya gue mengerti. Bahwa tidak hanya mereka dan dia yang mengalami krisis bahagia dan cinta kasih, tetapi gue pribadi telah meyelami rasa itu…
Semakin gue memikirkan ini semakin gue merasa penting untuk memecahkan masalah dalam diri, tentang diskriminasi tentang wujud caci dan apresiasi terhdap diri. Sebagai seorang wanita gue semakin mengkaji, apa hakikat gue hadir di muka bumi..
Dan semakin gue kaji semakin gue mengerti bahwa tubuh ini hanyalah sebuah properti, yang satu ketika akan dibawa pergi oleh sang kekasih yang kelak menjadi pengganti, pengganti papaku nanti..
Apa yang bisa gue perbuat dengan tubuh mungil ini yang penuh dikriminasi?
Ketika gue menguji dan memompa diri untuk menjadi terpuji, yang gue dapatkan hanya sebuah jeruji…
Jangan kesana, jangan kemari.. jangan sekolah tinggi-tinggi,, karna engkau sang putri, putri yang tak pantas berlari…
Kau hendaklah menanti, tak pantas diuji..
Kau baiknya menangis tak harus rasionalist..
Kau haruslah bermanis tak baik menjadi egois..
Semua itu dipertuntut kan kepada gue sebagai seorang wanita,yang sekan hidup dalam privatisasi.
Ok  ditulisan ini gue coba ganti sudut pandang budaya ini menjadi lebih normatif, gue beralih mencari sang spiritualist untuk menyirami rasa haus akan pengatahuan yang naturalis,,
Akhirnya pengertian akan diri yang gue dapatkan adalah bahwa:
Adam di murkai Tuhan dan diusir kebumi itu karna bujukan hawa yang memintanya makn buah khaldun, dan bahwa wanita itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki, hendaklah berdosa baginya menampakkan setengah anggota tubuhnya kepada laki-laki, sudah pasti wanita itu lebih banyak masuk neraka ketimbang lelaki, dia berdosa ketika menolak pada suami untuk disetubuhi, diapun berdosa ketika pergi tanpa seijin suami, dia berdosa ketika ingin memimpin, dia tak pantas untuk dijadikan inspirasi, kalopun dia dijadikan sebagai sesosok yang menginspirasi, itu semua tidak terlepas dari kemolekan tubuhnya yang mengantisipasi…
dan kenapa?kenpa…. jika satu negara atau pemerintahan ingin melakukan islamisasi, tindakan pertama yang dilakukan adalah memaksa perempuan masuk kedalam rumah dan menutupi diri?
Apakah itu sebuah sudut pandang islam yang coba di interpretasi kebnyakan orang secara dangkal tanpa berdiskusi…?
Semakin gue pelajari, itu terasa semakin tidak masuk akal untuk gue pribadi. Karna bukankah Tuhan Maha Pengasih, lalu kenapa begitu diskriminasi?

Semua aturan-aturan ini menampakkan gue pada kesadaran bahwa ada sebuah masalah diskrimasi dan ketidakadilan perempuan dalam masyarakat islam melalui interpretasi teks Al-Qur’an.
Masalahnya, Kenapa?kenapa bisa terjadi?
Akhirnya gue mencoba memplajari ini, dan mengimani bahwa Qur’an itu memuat sebuah cerita-cerita  dan mitologi yang dibungkus dalam harfiah dan pralambang. Penafsirannya sangat tergantung dari cara pandang kita, bagaimana kita memahaminya secara harfiah atau sebagai pralambang. Dua cara pandang yang berbeda itu akan menghasilkan penafsiran yang berbeda pula. Banyak orang yang menyatakan dan menganggap telah menafsirkannya secara harfiah, tapi bukankah bahasa arab adalah bahasa yang bertumpu pada akar kata?...
Untuk mengtahui satu kata arab kita hrus bertumpu pada akar katanya. Dan masalahnya adalah akar kata itu mempunyai puluhan bahkan ratusan arti sesuai konteksnya,,
So, bukankah itu berarti satu kata,selain bergantung pada akar, bergantung pula pada konteksnya?.. maka sungguh tidak mungkin mengartikan kata-kata arab tapa mempertimbangkan atau mengetahui konteksnya tersebut. 
Berbekal hal ini gue semakin ingin tahu, kenapa wanita haram untuk keluar rumah, kenapa wanita harus menutupi tubuhnya dan laki-laki tidak, apakah karna konteks pada masa itu?
Namun bukankah Al quran sendri merupakan pedoman  hidup untuk masa lalu , kini dan masa depan?
Lalu seperti apa gue harus mereinterpretasi setiap ayat-ayat itu?
Ayat-ayat yang seakan mendiskreditkan gue sebagai wanita?
Apakah yang gue lakukan ini adalah upaya rasionalisasi al-Qur’an yang sia-sia?

Entahlah, tapi gue berangkat memboncengi pemikiran ini sebagai seorang yang  beriman “ a true believer”. Gue perrcaya Al qur’an merupakan sabda Tuhan yang menjadi norma ideal islam dan diberikan sebagi pedoman bagi umat manusia masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Namun gue hadir dengan sebuah prasangka bahwa argumen keagamaan yang coba direalitaskan ini adalah hasil interpretasi dan aturan-aturan kegamaan yang dibuat kaum lelaki.
dan masalahnya adalah gue yakin bahwa Tuhan itu bukanlah laki-laki, Tuhan itu adil, Maha penyayang dan tidak mendiskriminasikan antara perempuan dan laki-laki. gue percaya perempuan itu sejajar dengan laki-laki, namun sangat dan masih banyak perempuan islam yang menganggap dirinya tidak sejajar dengan laki-laki, karna selama ini perempuan islam selalu disosialisasikan demikian. Sepanjang masa, selam beratus-ratus tahun, kami “perempuan” diajarkan untuk merasa serba kurang dibanding laki-laki. Dan kami “perempuan” diciptakn dari rusuk adam, dan rusuk itu adalah rusuk yang bengkok. Dan kami “perempuan” diceritakan sebagai penyebab adam terlempar keluar dari surga. Dan kami “perempuan” diciptakan untuk melayani laki-laki. Dan itu yang menjadikan kami “perempuan” makhluk inferior dan sulit untuk tak merasa berarti.

Namun ketika kami “perempuan” dengan nasib yang cukup baik dan berpendidikan, berhasil mendapatkan suatu hak politik, ekonomi ataupun sosial, dan mendapatkan kenyamanan serta kemapanan hidup secara personal. Ketika sedang sendirian atau dalam situasi tertentu. Dijejaki rasa bersalah dan merasa telah menyimpang. Merasa bukan muslim yang baik, dan bukan perempuan yang baik. Ini semua hanya masalah interperetasi, ini masalah yang seharusnya kami "perempuan" mengerti.

Sama halnya ketika gue mengerti masalah hijab. Ketika memutuskan berhijab, gue merasa ada satu keharusan akan pengidentitasan simbol yang gue ikuti. Gue diidentifikasikan seorang yang lebih baik, lebih religious, lebih santun or anything. Dan masalahnya gue berhijab bukan karna itu, bukan karna gue telah bereduksi menjadi muslimah sejati, tapi lebih kepada gue sedang membandingkan arti kenyamanan diri. Namun ketika memakai hijab, gue merasa ada sebuah kepasifan dan ketidak ingintahuan orang-orang disekitar, ada sekat tajam yang membatasi dan melindungi cara berfikir dan bertutur kata yang coba gue ungkapkan, lalu apa ini dan apa-apan ini?
Kenapa ketika gue mentupi tubuh.  Terasa seakan gue menjadi perempuan yang telah menutup diri?
Lagi-lagi ketika gue memutuskan mengikuti aturan ini, aturan yang mengislamisasi ini. gue makin tenggelam dalam pertanyaan diskrimasi Tuhan…

Dan akhirnya gue kembali “iqra” disitulah gue tahu bahwa sejarah dunia periklanan , bukan hanya iklan modern tpi juga masa sebelumnya, sejak berabad-abad tahun lalu selalu tubuh perempuan lah yang dijadikan objek reklame. Ini bisa jadi karna tubuh perempuan diciptakan sedemikian sehingga cocok untuk itu, dan bisa jadi dalam masyarakat patriarkis perempuan selalu menjadi objek seks. dan ketika gue coba mengkaitkannya dengan perintah Tuhan dalam Qur’an yang mengatakan kepada perempuan "jangan berpakaian dan bertingkah laku seperti  objek seks, supaya orang tak bisa menuduhmu dengan mengatakan engkau ingin diperlakukan spt itu". Dan disitu jelas ditulis “hai nabi katakan pada istri-istrimu dan kaum perempuan yang beriman bahwa jika meninggalkan rumah mereka harus memakai purdah, agar mereka dianggap sebagai perempuan saleh dan tidak diganggu. Setelah membaca sejarah periklanan tanpa sengaja dan mencoba  membandingkan sabda Tuhan dalam Qur'an dengan melihat konteks pada masa itu, gue sadar bahwa Qur’an sama sekali tak mengatakan bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah atau bekerja diluar rumah lalu menutup diri, namun mereka diperintahkan demikian dan diperlakukan demikian suapaya dipandang dan diperlakukan secara baik-baik dan tidak diganggu. Disini lah gue mngerti Tuhan begitu pengasih.

Satu hal yang kini gue mengerti  bahwa agama apapun itu namanya, dan Tuhan seperti apapun itu bentuknya.. dia penuh kasih. Agama itu terkait dengan kasih sayang dan kebahagiaan,  Agama adalah pengenalan dengan Tuhan untuk menghasilkan akhlak yang baik. Akhlak yang baik itu adalah silaturahim . dan silaturahim itu seperti memasukkan rasa bahagia kedalam hati kita. So, untuk apa kita beragama jika kita masih saling membenci, untuk apa kita memeluk agama jika menjadikan kita intoleransi. Jadi hiduplah beragama, karna agamalah yang menjadikan kita hidup bahagia. jika kita beragama tapi masih merasa tidak bahagia dan selalu menampak kan muka masam, muram dan dengki. lah buat apa..buat apa kita beragama tapi masi berprasangka benci pada orang, jangankan pada orang pada Tuhan dan diri pun demikian..
Tuhan sendiri pernah berkata bahwa” aku adalah seperti apa yang kamu sangkakan kepadaku”

Dan kini gue telah berhasil menyempitkan pemikiran dan melapangkan hati untuk lebih berprasangka baik terhadap Tuhan dengan segala ketentuan yang dia berikan, dengan segala kebaikan yang coba dia samarkan.


Dan pencarian makna ini akan terus berlanjut Tuhan..
Dan semoga engkau terus menyentuh hatiku~dan membukakan pikiranku


best regards 
Milla hanifah

Kamis, 28 Maret 2013

first ever barbie doll




This teen fashion model hit the scene march 9, 1959. Wearing nothing but a black and white zebra striped bathing suit, black opened toe shoes, and gold earring. She had blonde hair, red painted lips, full breast, small waist, and long slender legs.   And every young girl white or black had to have her and wanted to be her. Barbie was the got to have doll in 1959 till this day worldwide.   During my youth my sister and I wanted her too. Forbirthdays and every time we saw a new commercial for her.
While during some research about Barbie, I came across the first  Barbie commercial. While watching the commercial I’ve notice a woman singing a song in the background. 

“Barbie you're beautiful
You make me feel
My Barbie doll is really real
Barbie's small and so petite,
Her clothes and figure look so neat
Her dancing outfits ring some bells
At parties she will cast a spell
Purses, hats, and gloves galore
And all the gadgets gals adore.
Someday, I'm going to be
Exactly like you
Till then I know just what I'll do...
Barbie, beautiful Barbie
I'll make believe that I am you.”

My attention zoomed in on the lyrics “Her clothes and figure look so neat” and then a siren went off in my mind when I heard “Someday, I'm going to be exactly like you”. I was unaware that Barbie had a song and very disturb about the lyrics I’ve heard. The lyrics were very disturbing to me because the children listening to this was being subjected to the media’s standards of the way a woman suppose to look physically.
oh my godness please, protect my daughter and all girls in the world from barbie doll

Kamis, 14 Maret 2013

#undergraduate thesis


finally,, my title "barbie" has accepted.yeah, i feel like win the lottery when i knew that. because, yesterday my feeling was so blimmed but, look at me now..i'm really happy
anyhow after my title final's project rejected. i have some time to have my mentally stable (well, “mentally stable” is a strong phrase… maybe safer to go with “slightly less unstable”?LOL), and then now i'm getting anxiously excited to start my undergraduate thesis.

2013-->it's going to be quite a year,in which I will (presumably) graduate from college(hopefully),,

But that’s all a ways off, so, College, as Ke$ha would say, “let’s make the most of the night like we’re going to die young.”  (“Die” clearly meaning “graduate,” and “young” meaning “in just under five months.”  This song is about meeee!)  oh my godness in five months i have to finish my college..........
i'm still dreaming how if i don't write my undergraduate thesis and you still give me an A+ sir?